Feeds:
Pos
Komentar

PENGEMBANGAN KREATIVITAS ANAK USIA DINI

 

 

Disampaikan Pada Mata Kuliah

PENGEMBANGAN MOTORIK DAN KREATIVITAS

ANAK USIA DINI (AUD)

 

 

Dosen Pegampu

Prof. Dr. Hj. Emosda, M.Pd.Kons

 

 

OLEH:

ZUKHAIRINA

NIM: P.p.211.2.1523

 

 

 

KONSENTRASI PENDIDIKAN ISLAM ANAK USIA DINI (PIAUD)

IAIN SULTHAN THAHA SYAIFUDDIN (STS) JAMBI

TAHUN 2013

BAB I. PENDAHULUAN

  1. A.  Latar Belakang

Pendidikan, pada hakikatnya, memiliki tujuan yang hakiki yakni humanisasi. Pendidikan memiliki makna dasar, memanusiakan manusia. Membuat manusia kembali pada fitrahnya. Salah satunya adalah dengan mengembalikan manusia menjadi cerdas dan kreatif guna menjangkau perkembangan hidup yang penuh nilai-nilai kemanusiaan. Pendidikan berupaya mendorong anak didik berani menghadapi problematika kehidupan demi menegakkan tugasnya sebagai khalifat di muka bumi.[1]

Taman Kanak-kanak mengemban tugas yang paling mulia, yakni menjaga agar bekal alam anak-anak tidak tercerabut oleh misi-misi orang dewasa. Guru-guru Taman Kanak-kanak berperan besar, karena di pundaknya semua benih-benih kebermaknaan dan kemuliaan manusia berada. Di tangan guru yang cerdas dan laras, anak-anak akan dapat tumbuh menjadi manusia-manusia besar yang berpikir, berjiwa, dan berkarya besar.Kemengertian dan kehati-hatian yang dituntut di sini bukan slogan bombas, namun menjadisebuah keniscayaan yang haram dihindari.

Sebagian besar anak dilahirkan cerdas. Dengan demikian, mereka juga dibekali kreativitas. Alam memberikan kepada setiap anak perangkat untuk mengarungi kehidupan dengan bekal itu. Bekal alam memberikan kecukupan bagi manusia untuk mencapai kecakapan hidup. Pendidikan, pada hakikatnya, memiliki tujuan yang hakiki yakni humanisasi. Pendidikan memiliki makna dasar, memanusiakan manusia. Membuat manusia kembali pada fitrahnya. Salah satunya adalah dengan mengembalikan manusia menjadi cerdas dan kreatif guna menjangkau perkembangan hidup yang penuh nilai-nilai kemanusiaan. Pendidikan berupaya mendorong anak didik berani menghadapi problematika kehidupan. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) menjadi sedemikian penting, karena pendidikan manusia pada lima tahun pertama sangat menentukan kualitas hidup selanjutnya.[2]

Taman Kanak-Kanak merupakan salah satu bentuk pendidikan prasekolah yang ada di jalur pendidikan sekolah. Pendidikan prasekolah adalah pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan, jasmani dan rohani anak di luar lingkungan keluarga sebelum memasuki pendidikan dasar. Usaha ini dilakukan supaya anak-anak usia 4-6 tahun lebih siap mengikuti pendidikan selanjutnya. Sebagiaimana terdapat dalam Garis-Garis Besar Program Kegiatan Belajar Taman Kanak- Kanak (GBP KBTK I 994) Bahwa Taman Kanak-Kanak sebagai usaha mengembangkan seluruh segi kepribadian anak dalam dalam rangka menjaembatani pendidikan dalam keluarga dan pendidikan sekolah. Adapun yang menjadi tujuan program kegiatan belajar- anak Taman Kanak-kanak adalah untuk membantu meletakan dasar kearah perkembangan sikap, pengetahuan, keterampilan, dan daya cipta yang diperlukan oleh anak didik dalam menyesuaikau diri dengan lingkungannya dan untuk pertumbuhan dan perkembangan selanjutya. Disamping itu pula beberapa hal yang perlu diingat adalah bahwa masa kanak-kanak adalah masa yang peka untuk menerima berbagai macam rangsangan dari lingkungan guna rnenunjang perkembangan jasmani dan rohani yang ikut rnenentukan keberhasilan anak didik mengikuti pendidikannya di kemudian hari. Masa anak-anak juga masa bermain, oleh sebab itu kegiatatr pendidikan di Taman Kanak-kanak diberikan melalui bermain sambil belajar dan belajar sambil bermain.

Melihat demikian penting tugas guru PAUD, maka sudah seharusnya setiap guru menyadari atau disadarkan akan tugas utamanya: mendidik dan mengasuh anak usia dini. Sangat perlu guru PAUD membekali dan dibekali kecakapan sebagai pendidik. Dengan demikian, guru dapat melaksanakan tugas dan fungsinya dengan baik, optimal dan maksimal. Makalah ini bertujuan mengajak para calon guru memahami hakikat permainan dan kreativitas pada AUD, bentuk kreativitas mereka, manfaat, dan ciri kreativitas pada AUD. Kebermaknaannya terletak pada bagaimana guru meyakini bahwa hakikatnya semua anak kreatif dan menjadi tugas guru untuk menjaga dan mengembangkannya.

Jika kita coba analisa dari tujuan program belajar anak Taman Kanak-kanak, maka kita dapat menemukan satu kata kunci yang merupakan suatu kebutuhan dalam tujuan tersebut, yaitu kata daya cipta atau dengan istilah lain kreativitas. Sekilas memang tak asing jika kita mendengar kata tersebut, tetapi ternyata dalam pelaksanaannya masih banyak ditemukan kesulitan yang berkenaan dengan bagaimana mengembangkan kreativitas pada anak Taman Kanak-Kanak. Kesulitan atau hambatan tersebut mungkin berasal dari program apa yang seharusnya dikembangkan oleh guru, karakteristik guru seperti apa yang dapat mengembangkan kreativitas anak usia Taman Kanak-kanak, serta strategi apa yang harus dilakukan oleh guru agar dapat memfasilitasi berkembangnya kreativitas anak.

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas, maka muncullah beberapa pertanyaan yang dirumuskan sebagai berikut:

  1. Apa pentingnya kreativitas dalam kehidupan?
  2. Apa fenomena kreativitas di berbagai negara?
  3. Apa permasalahan pengembangan kreativitas di Indonesia?

C. Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui pentingnya kreativitas dalam kehidupan.
  2. Untuk mengetahui fenomena kreativitas di berbagai negara.
  3. Untuk menemukan permasalahan pengembangan kreativitas di Indonesia.

BAB II. PEMBAHASAN

  1. A.    Pentingnya Kreativitas Dalam Kehidupan

Kreativitas perlu dikembangkan sejak dini karena kreativitas mempengaruhi dan meningkatkan kecerdasan seseorang. Kreativitas merupakan salah satu aspek penting. Seorang anak lahir membawa potensi kreatif. Dengan potensi kreatif yang dimilikinya, anak akan senantiasa membutuhkan aktivitas yang sarat dengan ide – ide kreatif. Secara alami rasa ingintahu telah dikaruniai oleh sang pencipta. Maka secara alami pula anak memiliki kemampuan untuk mempelajari sesuatu dengan caranya sendiri.[3]

Anak-anak senantiasa tumbuh dan berkembang. Mereka menampilkan ciri-ciri fisik dan psikologis yang berbeda untuk tiap tahap perkembangannya. Masa anak-anak merupakan masa puncak kreativitasnya, dan kreativitas mereka perlu terus dijaga dan dikembangkan dengan menciptakan lingkungan yang menghargai kreativitas itu sendiri.[4] Saat ini, perkembangan ilmu pengetahuan, seni dan teknologi telah berkembang demikian pesatnya. Seluruh umat manusia di belahan bumi manapun, termasuk masyarakat indonesia sedikit banyaknya telah menikmati buah karya ilmu pengetahuan, seni dan teknologi. Pada dasarnya ilu pengetahuan, seni dan teknologi akan terus berkembang sejalan dengan perkembangan manusia itu sendiri.

Kreatifitas merupakan daya dan atau kemampuan manusia untuk  menciptakan sesuatu. Kemampuan ini dapat terkait dengan bidang seni maupun ilmu pengetahuan. Dalam bidang seni, intuisi dan inspirasi sangat berperan besar dan menuntut spontanitas lebih tinggi. Di bidang ilmu pengetahuan, kemampuan pengamatan dan perbandingan, menganalisa dan menyimpulkan lebih menentukan. Kedua-duanya menuntut pemusatan perhatian, kemampuan, kerja keras dan ketekunan; kedua-duanya bertolak dari intelektualisme dan emosi, serta merupakan cara pengenalan realitas alam dan kehidupan yang sama.[5]

Banyak orangtua berharap, ketika anaknya masuk ke jenjang pendidikan prasekolah, sekolah tersebut mampu menyiapkan anak agar bisa membaca, menulis, dan berhitung. Akibatnya, banyak lembaga pendidikan prasekolah yang mengorientasikan pendidikannya secara lebih akademik. Hal ini biasanya membuat guru lebih sering menyuruh  anak untuk duduk diam di ruang kelas, belajar menulis, dan  mengerjakan soal-soal berhitung. Bahkan, hasil pekerjaan anak itu sudah mendapat nilai, kritik, dan disalahkan oleh guru. Padahal, menurut Ericson, apabila pada masa ini anak sering dikritik, disalahkan, atau diberikan nilai, maka  sikap yang akan berkembang di dalam dirinya adalah perasaan bersalah dan takut. Perasaan bersalah ini akan membuat anak takut untuk mencoba, mengambil inisiatif dan berkreasi.

Mengapa kreativitas begitu penting dalam hidup dan perlu dipupuk dalam diri anak sejak dini? Karena dengan berkreasi orang dapat mewujudkan (mengaktualisasikan) dirinya, dan perwujudan/aktualisasi diri  merupakan kebutuhan pokok tingkat tertinggi dalam hidup manusia (Maslow, 1959). Kreativitas merupakan manifestasi dari individu yang berfungsi sepenuhnya, dengan kreativitas memungkinkan manusia untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Dalam erapembangunan ini kesejahteraan dan kejayaan masyarakat maupun negara bergantung pada sumbangan kreatif, berupa ide-ide baru, penemuan-penemuan baru dan teknologi baru. Untuk mencapai hal ini perlulah sikap, pemikiran dan perilaku kreatif dipupuk sejak dini.

B.       Fenomena Kreativitas Di Berbagai Negara

Masyarakat Jepang merupakan masyarakat yang dianggap paling produktif menciptakan hal-hal baru saat ini, konon belum ada bangsa yang mampu menandinginya. Banyak produk teknologi baru yang muncul dari Jepang. Mulai dari design mobil, peralatan elektronik rumah tangga, film kartun, buku komik hingga ke alat permainan anak. Sikap terampil, bekerja keras, rajin tumbuh karena mereka dihadapkan pada kehidupan alamnya yang keras dan tidak memanjakan mereka. Selain itu pemerintah jepang sangat memperhatikan pembinaan dan pendidikan masyaraktnya. Hal ini dimulai dari perhatian pemerintah terhadap pembinaan keluarga muda yang memiliki anak usia dini. sehingga pendidikan anak betul-betul mendapatkan perhatian sejak mereka masih sangat belia.

Bagaimana dengan Amerika, negara yang dianggap sebagai negara Super Power dan negara-negara Eropa lainnya? memang tidak diragukan lagi, mereka juga memegang peranan penting dalam meletakkan dasar-dasar berkembangnya kreativitas manusia. bagaimana tidak? Banyak sekali karya-karya yang telah mereka ciptakan, mulai dari benda-benda yang tidak berbahaya, bahkan sampai benda yang paling berbahaya telah mereka ciptakan, misalnya nuklir.

Di Indonesia, berkenaan dengan tingkat kreativitas anak-anak usia 10 tahun di berbagai negara, termasuk di dalamnya Indonesia. Ternyata Indonesia menempati posisi terendah dibandingan 8 negara lainnya yaitu Filipina, Amerika, Inggris, Jerman, India, RRC, Kamerun, Zulu dan Indonesia (penelitian tahun 1994). apa penyebab fenomena ini?. Banyak faktor yang diperkirakan menjadi penyebab rendahnya kreativitas di Indonesia. Beberapa faktor tersebut diantaranya adalah pola asuh orang tua yang cenderung otoriter serta sistem pendidikan yang kurang mendukung.

Hasil survey nasional pendidikan di Indonesia (Tridjata, 1998: 1) menunjukkan bahwa sistem pendidikan formal di Indonesia pada umumnya masih kurang memberi peluang bagi pengembangan kreativitas. Di sekolah yang terutama dilatih adalah ranah kognitif yang meliputi: pengetahuan, ingatan, dan kemampuan berpikir logis dan penalaran. Sementara perkembangan ranah afektif (sikap dan perasaan) dan ranah psikomotorik (keterampilan) serta ranah lainnya kurang diperhatikan dan dikembangkan.

C.      Permasalahan Pengembangan Kreativitas Di Indonesia

Beberapa faktor yang menyebabkan anak Indonesia menempati Ranking terakhir dalam kreativitas adalah sebagai berikut:

  1. Hambatan diri sendiri seperti: Psikologis, biologis, fisiologis, dan sosiologis.
  2. Pola Asuh: Seorang anak yang dibiasakan dengan suasana keluarga yang terbuka, saling menghargai, saling menerima dan mendengarkan pendapat anggota keluarganya, maka ia akan tumbuh menjadi genarasi yang terbuka, fleksibel, penuh inisiatif, dan produktif, suka akan tantangan percaya diri.
  3. Sistem Pendidikan: saat ini orientasi sistem pendidikan kita lebih mengarah pada pendidikan “akademik” dan “industri tenaga kerja”. Artinya sistem persekolahan kita lebih mengarah pada upaya membentuk manusia menjadi “pintar di sekolah saja” dan menjadi “pekerja” bukan menjadi “manusia Indonesia yang seutuhnya”.

Dalam sebuah penelitian Munandar (1999) menemukan bahwa karakteristik murid ideal menurut orang tua dan guru tidak mencerminkan murid yang kreatif. Murid yang ideal menurut guru diantaranya sehat, sopan, rajin, punya daya ingat yang baik dan mengerjakan tugas secara tepat waktu. Hal ini jauh dari karakteristik anak kreatif yang biasanya memiliki ide sendiri untuk mengerjakan dan memperkaya tugas-tugasnya. Selanjutnya dipaparkan berbagai kondisi di sekolah yang dapat menjadi kendala bagi pertumbuhan kreativitas siswa, sebagai berikut;

  1. Sikap guru
  2. Belajar dengan hapalan mekanis
  3. Kegagalan
  4. Tekanan akan konfomitas

Untuk itu Munandar juga memaparkan empat hal yang harus dihindari di sekolah karena dapat mematikan kreativitas,yaitu:

  1. Evaluasi
  2. Hadiah
  3. Persaingan
  4. Lingkungan yang membatasi

4. Latar belakang sejarah dan budaya

Dalam perkembangan kreativitas di Indonesia adalah “luka lama” akibat masa penjajahan selama tiga setngah abad oleh kolonial Belanda, serta tiga setengah tahun selama masa penjajahan Jepang. Kebiasaan hidup yang selalu berda di bawah tekanan, ketakutan, instruksi dan perintah telah membuat bangsa Indonesia kehilangan “nyali” untuk hidup mandiri. Hal tersebut berkelanjutan secara turun temurun atar generasi. Tidak diberikannya kebebasan berperilaku dan berpikir telah membelenggu pengembangan kreativitas masyarakat Indonesia.

Hasil suatu penelitian seorang psikolog Amerika, Torrance (1974 : 4) menyimpulkan bahwa ada indikasi penurunan kemampuan berpikir kreatif pada anak usia 6 tahun, yaitu saat anak masuk kelas satu sekolah dasar.
Pernyataan di atas menunjukkan bahwa kreativitas pada anak usia dini belum dikembangkan secara optimal, oleh karena itu potensi dan kreativitas anak perlu dikembangkan melalui upaya pendidikan, baik pendidikan di lingkungan rumah, di sekolah, maupun di masyarakat luas. Sebagaimana yang disampaikan Hasan (Efendi, 2006:205) bahwa:  “Pendidikan adalah suatu proses pengembangan dasar atau pengembangan bakat/kreativitas anak, dan proses tersebut berjalan sesuai dengan hukum-hukum perkembangan. Bakat atau kreativitas anak tidak datang secara simultan atau tiba-tiba, melainkan tumbuh dan berkembang sesuai dengan hukum alam yang ada, bahwa manusia tumbuh dan berkembang setahap demi setahap”.

Lebih jauh Mulyadi (2000:2) memaparkan bahwa: “Sistem pendidikan Indonesia saat ini tidak menciptakan anak-anak yang kreatif. Murid yang baik selama ini adalah murid yang rajin, penurut, dan patuh serta bisa mengerjakan soal-soal sebagaimana yang telah diajarkan oleh guru, sampai pada titik komanya harus persis”. Keberhasilan akademis saja tidak menentukan keberhasilan seseorang dalam menjalani kehidupan ke depannya, oleh karena itu kreativitas perlu dirangsang perkembangannya sejak masa kanak-kanak, dan kreativitas harus dikembangkan dalam pendidikan formal, informal maupun nonformal. Sampai pada usia 4 tahun seorang anak telah mencapai separuh dari kecerdasannya. Rangsangan yang diberikan pada tahap-tahap pertama kehidupannya akan memberikan hasil yang paling besar dalam peningkatan potensi kreatifnya. Kreativitas merupakan salah satu potensi yang dimiliki anak yang perlu dikembangkan sejak usia dini. Setiap anak memiliki bakat kreatif dan ditinjau dari segi pendidikan, bakat kreatif dapat dikembangkan dan karena itu perlu distimulasi sejak dini.

Bila bakat kreatif anak tidak distimulasi maka bakat tersebut tidak akan berkembang, bahkan menjadi bakat yang terpendam yang tidak dapat diwujudkan. Menurut Torrance (1974 : 1) peran orang tua penting sekali dalam menentukan cara untuk meningkatkan kreativitas pada anak kecil, karena kemampuan ini perlu dirangsang sejak bayi. Menurut ahli ini, kreativitas anak mulai meningkat pada usia 3 (tiga) tahun, mencapai puncaknya usia 4-4 ½ tahun, lalu menurun pada usia 5 tahun ketika anak masuk sekolah (mungkin karena tekanan guru dan teman yang menuntut dia agar menyesuaikan diri).

Hasil penelitian di Baylor College Of Medicine (Nurlaily, 2006 : 12) “Menyatakan bahwa lingkungan memberi peran yang sangat besar dalam membentuk sikap, kepribadian dan pengembangan kemampuan anak secara optimal. Anak yang tidak mendapat lingkungan yang baik untuk merangsang pertumbuhan otaknya, misal jarang disentuh, jarang diajak bermain, jarang diajak berkomunikasi, maka perkembangan otaknya akan lebih kecil 20-30% dari ukuran normal seusianya”. Oleh karena itu hak-hak anak usia dini harus lebih diperhatikan lagi termasuk hak akan pendidikannya. Hal ini menunjukkan bahwa anak-anak berhak mendapat pengajaran, baik yang diselenggarakan di jalur pendidikan formal, informal, maupun di jalur nonformal sesuai pasal 28 dari UU No 20 tahun 2003.
Berkenaan dengan hal tersebut, maka pendidikan yang diberikan pada anak harus berorientasi pada perkembanganya. Menurut Nurlaily (2006 : 3) “Proses pendidikan yang berorientasi pada perkembangan adalah sebanyak mungkin melibatkan anak dalam kegiatan meneliti, menguji, memanipulasi dan bereksperimen dengan berbagai benda yang menarik bagi anak seusia mereka”. Melakukan berbagai percobaan dengan berbagai benda adalah kegiatan yang disukai anak usia dini dan kegiatan ini mampu mengembangkan kreativitas anak.

 

 

BAB III. KESIMPULAN

  1. Kreatifitas merupakan daya dan atau kemampuan manusia untuk  menciptakan sesuatu. Kemampuan ini dapat terkait dengan bidang seni maupun ilmu pengetahuan. Kreativitas perlu dikembangkan sejak dini karena kreativitas mempengaruhi dan meningkatkan kecerdasan seseorang. Kreativitas merupakan salah satu aspek penting.
  2. Berkenaan dengan tingkat kreativitas anak-anak usia 10 tahun di berbagai negara, Indonesia menempati posisi terendah dibandingan 8 negara lainnya yaitu Filipina, Amerika, Inggris, Jerman, India, RRC, Kamerun, Zulu dan Indonesia.
  3. Beberapa faktor yang menyebabkan anak Indonesia menempati Ranking terakhir dalam kreativitas adalah Hambatan diri sendiri, Pola Asuh, Sistem Pendidikan dan Latar belakang sejarah dan budaya.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Anita Yus, Dr. M.Pd, “Model Pendidikan Anak Usia Dini”, Penerbit: Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2011

Diakses dari http://restimustikasari.blogspot.com/2012/12/kreativitas-anak-usia-dini.html

Diakses dari http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/tmp/KREATIVITAS%20ANAK%20USIA%20DINI.pdf

Diakses dari http://zain.students.uii.ac.id/2013/04/08/%E2%80%9Cpermainan-dan-kreativitas-pada-anak-usia-dini%E2%80%9D/

Novan Ardy Wiyani &Barnawi, “Format PAUD”, Penerbit: Ar-Ruzz Media, Jogjakarta, Tahun 2012

Rita Mariyana, http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PGTK/197803082001122-RITA_MARIYANA/MODUL_KREATIVITAS_AUD.pdf

Wismiarti, Retno Soendari & Neni Arriyani, “Membangun Kecerdasan Anak 0-3 Tahun Melalui Membaca dan Bermain”, Penerbit: Arga Publishing, Jakarta, Tahun 2008


[4] Ibid.

PENGEMBANGAN MOTORIK ANAK USIA DINI

 

 

 

Disampaikan Pada Mata Kuliah

PENGEMBANGAN MOTORIK DAN KREATIVITAS ANAK USIA DINI (AUD)

 

 

 

Dosen Pegampu

Prof. Dr. Hj. Emosda, M.Pd.Kons.

 

 

OLEH:

ZUKHAIRINA

NIM: P.p.211.1.1523

 

 

 

KONSENTRASI PENDIDIKAN ISLAM ANAK USIA DINI (PIAUD)

IAIN SULTHAN THAHA SYAIFUDDIN (STS) JAMBI

TAHUN 2013

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang

Pembangunan pendidikan nasional ke depan didasarkan kepada paradigma membangun manusia Indonesia seutuhnya berfungsi sebagai subjek yang memiliki yang memiliki kapasitas untuk mengaktualisasikan potensi dan dimensi kemanusiaan secara optimal, diarahkan untuk meningkatkan mutu dan daya saing SDM Indonesia pada era perekonomian berbasis pengetahuan (knowledge based economy) dan pembangunan ekonomi kreatif. Pembangunan pendidikan akan optimal jika seluruh stakeholder memahami betuk hakikat pendidikan.[1] Pendidikan yang membangun kreatifitas dan kecerdasan.

Sudah dipahami bahwa pendidikan itu meningkatkan kualitas hidup. Persoalannya, bagaimana pendidikan dilaksanakan sehingga pikiran anak didik dapat dibangun dari segala aspek perkembangannya dan dengan demikian kemampuannya berpikir, menganalisis, dan mengambil kesimpulan dapat ditingkatkan.[2]

Banyak orang tua maupun guru telah memahami pentingnya masa emas (golden age) perkembangan pada usia dini. Sebagai masa penting, masa sensitifnya semua potensi yang dimiliki untuk berkembang. Persepsi tentang pentingnya golden age menjadikan orang tua dan guru berlomba dengan waktu untuk memberikan pengalaman belajar melalui “kegiatan atau pembelajaran akademik.” Hampir keseluruhan waktu belajar anak dilakukan melalui “kegiatan akademik.” Guru mengajar dengan menjelaskan, anak belajar melalui mendengarkan dan mengerjakan tugas yang didominasi lembar atau buku kerja anak. Anak menulis angka dan huruf/kata tanpa membangun konteks belajar terlebih dahulu. Dalam situasi ini, aspek kognitif atau intelektual memperoleh stimulus terbesar, sedang aspek lainnya hampir diabaikan.[3]

Banyak guru beranggapan tanpa menerangkan atau menjelaskan materi, anak akan menghadapi kesulitan memperoleh pengetahuan. Padahal anak memperoleh pengetahuan justru dari berbagai cara. Sesuai dengan salah satu ciri anak usia dini, yaitu anak sebagai individu yang aktif maka pengetahuan lebih banyak diperoleh dari pengalaman melakukan berbagai aktivitas. Mendengarkan penjelasan guru sedikit sekali membentuk pengetahuan, apa lagi usia anak yang belum dapat berkonsentrasi dalam waktu yang relatif lama.[4]

Dari hasil penelitian para ahli yang mengamati perkembangan anak sejak lahir hingga 18 tahun, ditemukan bahwa pendidikan yang baik adalah pendidikan yang memberikan kesempatan kepada anak untuk menemukan sendiri pengertian/konsep tentang dirinya, benda-benda dan orang-orang disekitarnya maupun lingkungan serta alam raya beserta isinya. Dia juga mengerti bagaimana berinteraksi dengan orang lain atau lingkungan sebagaimana dia mengerti dan berinteraksi dengan diri dan keinginannya sendiri.[5]

Untuk anak dapat berinteraksi baik dengan dirinya sendiri maupun orang-orang serta lingkungan disekitar dia, anak membutuhkan kegiatan-kegiatan yang melibatkan kegiatan fisik (motorik) dan membuat anak mampu untuk berkreatifitas sehingga dapat menumbuhkan dan mengembangkan pengetahuannya (kognisi) secara alami tanpa ada perasaan tidak nyaman atau tertekan. Sebab perasaan tersebut membuat anak untuk tidak siap menerima atau mendapatkan pengetahuan yang bersifat temuan atau menciptakan.

Dalam Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 angka 14 menyatakan bahwa Pendidikan anak Usia Dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.[6] baik pendidikan secara formal di sekolah maupun secara nonformal.

Pendidikan anak usia dini 0-8 tahun menurut Jamaris (2003) telah cukup lama menjadi prhatian tokoh atau para ahli filsafat seperti Plato dan Aristoleles. Plato mengemukakan pendidikan yang paling tepat untuk mendidik anak adalah sebelum usia 6 tahun. Seorang ahli pendidikan lainnya seperti John Amus Comenicus (1592-1672) dalam bukunya “The school of Infant”menyatakan pendidikan anak telah berada di dalam pangkuan Ibunya. Cominicus berpendapat pendidikan anak berlangsung sejalan dengan aktivitas bermain karena bermain adalah realisasi dari pengembangan diri kehidupan anak. sedangkan John Pestalozzi (1746-1827) berpendapat bahwa pendidikan dimulai di rumah, melalui berbagai kegiatan yang dilakukan anak pada waktu bermain.

Menurut Husein, dkk. (2002) anak usia dini berada pada masa lima tahun pertama yang disebut masa Golden Age, masa ini merupakan masa emas perkembangan anak. anak pada usia tersebut mempunyai potensi demikian besar untuk mengoptimalkan segala aspek perkembangannya, termasuk keterampilan perkembangan motoriknya, artinya perkembangan keterampilan motorik sebagai perkembangan unsur kematangan dan pengendalian gerak tubuh. Terdapat hubungan yang saling mempengaruhi antara kebugaran tubuh, keterampilan motorik dan kontrol motorik. Keterampilan motorik anak usia dini (AUD) tidak akan berkembang tanpa adanya kematangan kontrol motorik, kontrol motorik  tidak akan optimal tanpa tanpa kebugaran tubuh, kebugaran tubuh tidak akan tercapai tanpa latihan fisik.[7]

Anak usia dini yang berusia 2-6 tahun memiliki energi yang tinggi. Energi dibutuhkan untu melakukan berbagai aktivitas yang diperlukan dalam meningkatkan penampilan fisik, baik yang berkaitan dengan peningkatan keterampilan motorik kasar, seperti berlari, melompat, bergantung, melempar bola stsu menendangnya, maupun motorik halus, seperti menggunakan jari-jari atau menyusun puzzle, memilih balok, dan menyusunnya menjadi bangunan tertentu.[8]

Kegiatan fisik dan pelepasan energi dalam jumlah besar merupakan ciri aktivitas dari anak usia ini. Hal ini disebabkan oleh energi yang dimiliki anak dalam jumlah besar tersebut memerlukan penyaluran melalui berbagai aktivitas fisik, baik kegiatan fisik yang berkaitan dengan motorik kasar maupun gerakan motorik halus.[9]

Selanjutnya program pengembangan keterampilan  motorik AUD seringkali terabaikan atau dilupakan oleh orang tua, pembimbing atau bahkan guru sendiri. Hal ini lebih dikarenakan mereka belum memahami bahwa program pengembangan keterampilan motorik menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan AUD. Bertitik tolak dari hal tersebut di atas dirasakan perlu dikembangkan sebuah model program pengembangan keterampilan motorik pada AUD, agar semua pihak yang berkepentingan khususnya para pendidik dapat memahami dan mampu menerapkan pada anak didiknya.[10]

Menurut Husain, dkk (2002), terdapat sejumlah faktor yang mempengaruhi perkembangan keterampilan motorik pada AUD, antara lain keturunan, makanan bergizi, masa pralahir, perkembangan intelegensia, pola asuh atau peran ibu, kesehatan, perbedaan budaya dan ekonomi sosial, perbedaan jenis kelamin, dan adanya rangsangan dari lingkungan serta aktivitas jasmani.

Berbagai manfaat dapat diperoleh AUD ketika ia makin terampil menguasai keterampilan motoriknya. Selain kondisi badan makin sehat karena bergerak, ia juga akan lebih mandiri dan percaya diri. Selanjutnya menurut Semiawan (2002) AUD yang dibimbing melalui program pengembangan keterampilan motorik secara tepat biasanya diikuti dengan berkembangnya keterampilan-keterampilan lainnya seperti keterampilan sosial yang positif (keterampilan kerjasama, disiplin, fairness).

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang si atas, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut:

  1. Apa landasan pengembangan Anak Usia Dini (AUD)?
  2. Apa tujuan dan fungsi pengembangan motorik Anak Usia Dini AUD)?

C. Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui landasan pengembangan Anak Usia Dini (AUD).

Untuk mengerti tujuan dan fungsi pengembangan motorik Anak Usia Dini (AUD)

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.    Landasan Pengembangan Anak Usia Dini (AUD)

Model program pengembangan keterampilan motorik pada anak usia dini merupakan upaya untuk memperkaya atau melengkapi ketersediaan bahan ajar yang telah ada khususnya tentang pengembangan keterampilan motorik anak usia dini atau program aktivitas bermain/olahraga.

Pertimbangan pengembangan keterampilan motorik anak usia dini perlu mengacu pada landasan sebagaimana berikut;

1. Landasan Yuridis

Landasan yuridis ialah dasar-dasar hukum yang ada atau peraturan yang berlaku di Indonesia dan berkaiutan dengan penyelenggaraan kegiatan pendidikan/pembinaan anak usia dini. Landasan tersebut sesuai dengan hakekat pendidikan anak usia dini:

  1. Pancasila dan UUD 1945
  2. UU No.29 Tahun 2003, Sistem Pendidikan Nasional tentang Pendidikan Anak Usia Dini, dan Lembaran Negara Tahun 1989 Nomor 6 Tambahan Lembaran Negara Nomor: 3390
  3. PP Nomor 27 Tahun 2009 Pasal 3. Tentang Pendidikan Prasekolah bertujuan untuk membantu meletakkan dasar ke arah perkembangan sikap, pengetahuan, keterampilan dan daya cipta yang diperlukan oleh anak didik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan dan untuk pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya.

2. Landasan Empiris

Kondisi di lapangan menunjukkan kecenderungan bahwa lembaga-lembaga formal maupun informal serta masyarakat luas telah memberi perhatian terhadap pendidikan anak usia dini. Namun di satu pihak keadaan tersebut belum terdukung oleh ketersediaan bahan ajar atau buku-buku yang memberikan bekal kebutuhan calon pembimbing anak usia dini yang berkaitan dengan topik pengembangan keterampilan motorik anak usia dini masih dirasakan belum lengkap atau memadai, yang berakibat pada pembimbingan menjadi kurang variatif.

3. Landasan Psikologis

Karakteristik psikologis manusia perlu dipertimbangkan secara menyeluruh dalam merancang program  pengembangan karena akan melibatkan manusia baik secara langsung maupun tidak. Kondisi psikologis setiap individu berbeda karena perbedaan faktor-faktor yang dibawa dari kelahirannya. Kondisi inipun akan berbeda pula bergantung kepada konteks, peranan, dan status individu di antara individu-individu yang lainnya. Interaksi pembimbingan tercipta dalam situasi pendidikan harus sesuai dengan kondisi psikologi para peserta didik maupun kondisi pendidiknya.

Anak usia dini adalah individu yang sedang berada dalam masa atau proses perkembangan. Tugas utama yang sesungguhnya dari para pendidik adalah membantu perkembangan mereka secara optimal. Isi pendidikan perlu disesuaikan dengan pola-pola perkembangan anak.

Perkembangan atau kemajuan-kemajuan yang dialami individu sebagian besar terjadi karena proses belajar, baik yang berlangsung melalui proses peniruan, pengingatan, pembiasaan, pemahaman, penerapan maupun pemecahan masalah. Oleh karena itu perlu dilakukan berbagai upaya menciptakan berbagai kegiatan pebelajaran agar anak belajar seperti kegiatan belajar mana yang dapat memberikan hasil secara optimal dan bagaimana proses pelaksanaannya yang mampu memberikan stimulasi tepat. Oleh karena salah satu aspek yang perlu dipertimbangkan dalam penyusunan program pengembangan keterampilan motorik anak usia dini adalah psikologi perkembangan anak usia dini.

3. Landasan Sosio-Antropologis

Landasan sosiologis-antropologis pendidikan mengacu kepada seperangkat konsep sosiologis umum yang menjadi sandaran atau dasar titik tolak dalam menyusun program pengembangan kegiatan yang dikembangkan. Landasan sosio-antropologis merupakan aspek penting, karena kegiatan pendidikan sebagai salah satu aspek kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dari aspek kehidupan masyarakat pada umumnya. Selanjutnya objek-objek sosial budaya yang terkait antara lain mencakup (1) organisasi sosial, (2) kebudayaan, (3) sosialisasi, (4) tingkat sosial, (5) perkumpulan-perkumpulan, (6) penduduk dan ekologi. Objek-objek tersebut hendaknya menjadi pertimbangan bagi kita dalam menyusun program pengembangan kegiatan pendidikan yang tidak lepas dari lingkungan sosial budaya.

Lingkungan sosial budaya yang membantu terjadinya proses sosialisasi anak khususnya anak usia dini adalah: (1) lingkungan keluarga, (2) lingkungan sepermainan/teman sebaya dan (3) lingkungan sekolah.

4. Landasan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

Mengacu pada pendekatan Developmentally Appropriate Practice (DAP), pendidikan anak usia dini bertujuan untuk mengembangkan seluruh potensi anak (the world child) agar kelak menjadi manusia Indonesia seutuhnya melalui kegiatan pembelajaran yang menyenangkan, mendidik dan demokratis yang sesuai dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak.

Setiap anak dipandang unik. Meskipun pola perkembangan dan pertumbuhan anak sama, kecepatan setiap anak mencapai setiap tahap perkembangan yang berbeda-beda. Oleh karena itu pendidikan anak usia dini perlu memperhatikan kebutuhan anak baik dalam kelompok usia maupun kebutuhan sebagai individual.

Anak dipandang sebagai individu yang baru mengenal dunia. Pendidikan anak usia dini memperkenalkan anak dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial agar kelak dapat hidup dan beradaptasi dengan lingkungannya.

Perkembangan setiap anak ditentukan oleh faktor genetis dan faktor lingkungan. Pendidikan anak usia dini mengembangkan potensi genetis anak agar berkembang secara optimal melalui rancangan yang menyesuaikan dengan kebutuhan individunya dan memperhatikan bakatnya. Sedangan faktor lingkungan pendidik perlu merancang lingkungan belajar yang menarik, menyenangkan dan menantang. Anak usia dini khususnya usia taman kanak-kanak belajar terbaik melalui interaksi dengan benda-benda konkrit bermakna, teman sebaya, dan orang yang lebih dewasa.

1. Tujuan dan Fungsi

Tujuan model program pengembangan keterampilan motorik pada anak usia dini, meliputi pengembangan keterampilan motorik kasar dan motorik halus.

Pengembangan keterampilan motorik kasar:

1)      Mampu meningkatkan keterampilan gerak.

2)      Mampu memelihara dan meningkatkan kebugaran jasmani

3)      Mampu menanamkan sikap percaya diri

4)      Mau bekerja sama

5)      Mampu berperilaku disiplin, jujur, dan sportif

Pengembangan keterampilan motorok halus

1)      Mampu memfungsikan otot-otot kecil seperti gerakan jari tangan.

2)      Mampu mengkoordinasikan kecepatan tangan dengan mata.

3)      Mampu mengendalikan emosi

Adapun penyusunan bahan ajar model program pengembangan keterampilan motorik  pada anak usia dini ini adalah untuk dijadikan sebagai pedoman bagi mahasiswa pendidikan anak usia dini, guru TK, tenaga pendidik kelompok bermain, pengasuh dan pengelola Taman Penitipan Anak (TPA) dan orang tua dalam mengambangkan keterampilan motorik anak usia dini yang sesuai dengan masa pertumbuhan dan perkembangannya.

Fungsi model program pengembangan keterampilan motorik anak usia dini. Setelah mengetahui tujuan dari pengembangan keterampilan motorik, adapun fungsi pengembangannya adalah sebagai berikut;

Fungsi  model program pengembangan keterampilan motorik kasar.

1)        Sebagai alat pemacu pertumbuhan dan perkembangan jasmasi, rohani, dan kesehatan untuk anak usia dini.

2)        Sebagai alat untuk membentuk, membangun dan memperkuat tubuh anak usia dini.

3)        Sebagai alat melatih keterampilan dan ketangkasan gerak juga daya pikir anak usia dini.

4)        Sebagai alat untuk meningkatkan perkembangan emosional.

5)        Sebagai alat untuk meningkatkan perkembangan sosial.

6)        Sebagai alat untuk menumbuhkan perasaan senang dan memahami manfaat kesehatan pribadi.

Fungsi model program pengembangan keterampilan motorik halus.

1)             Sebagai alat untuk mengembangkan keterampilan gerak kedua tangan

2)             Sebagai alat untuk mengambangkan koordinasi kecepatan tangan dengan gerakan mata.

3)             Sebagai alat untuk melatih penguasaan emosi.

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

  1. Landasan pengembangan Anak Usia Dini (AUD) ada yang disebut dengan Landasan Yuridis, Landasan Empiris, Landasan Psikologis, Landasan Sosio-Antropologis dan Landasan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
  2. Tujuan model program pengembangan keterampilan motorik anak usia dini meliputi pengembangan keterampilan motorik kasar dan motorik halus. Fungsi pengembangan motorik kasar yaitu: Sebagai alat pemacu pertumbuhan dan perkembangan jasmasi, rohani, dan kesehatan untuk anak usia dini, membentuk, membangun dan memperkuat tubuh anak usia dini, melatih keterampilan dan ketangkasan gerak juga daya pikir anak usia dini, meningkatkan perkembangan emosional, Sebagai alat untuk meningkatkan perkembangan sosial, dan menumbuhkan perasaan senang dan memahami manfaat kesehatan pribadi. Sedangkan motorik halus berfungsi: Sebagai alat untuk mengembangkan keterampilan gerak kedua tangan, mengambangkan koordinasi kecepatan tangan dengan gerakan mata dan melatih penguasaan emosi.

DAFTAR PUSTAKA

Anita Yus, Dr. M.Pd, “Model Pendidikan Anak Usia Dini”, Penerbit: Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2011

Novan Ardy Wiyani &Barnawi, “Format PAUD”, Penerbit: Ar-Ruzz Media, Jogjakarta, Tahun 2012

Peraturan Pemerintah Dinas pendidikan Nasional, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2009 Tentang Standar Pendidikan Anak usia Dini, Jakarta: Sinar Grafika, 2009

Wismiarti, Retno Soendari & Neni Arriyani, “Membangun Kecerdasan Anak 0-3 Tahun Melalui Membaca dan Bermain”, Penerbit: Arga Publishing, Jakarta, Tahun 2008


[1] Novan Ardy Wiyani &Barnawi, “Format PAUD”, (Penerbit: Ar-Ruzz Media, Jogjakarta, Tahun 2012) hlm. 31

[2] Wismiarti, Retno Soendari & Neni Arriyani, “Membangun Kecerdasan Anak 0-3 Tahun Melalui Membaca dan Bermain”, (Penerbit: Arga Publishing, Jakarta, Tahun 2008) hlm.v

[3] Anita Yus, Dr. M.Pd, “Model Pendidikan Anak Usia Dini”, (Penerbit: Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2011) hlm. ix

[4] Anita Yus, Dr. M.Pd, “Model Pendidikan Anak Usia Dini”,…hlm xi

[5] Wismiarti, Retno Soendari & Neni Arriyani, “Membangun Kecerdasan Anak 0-3 Tahun Melalui Membaca dan Bermain”…hlm.v

[6] Peraturan Pemerintah Dinas pendidikan Nasional, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2009 Tentang Standar Pendidikan Anak usia Dini, (Jakarta: Sinar Grafika, 2009), h. 1

[7] Ibid. h. 3

[8] Ibid.

[9] Ibid. h. 4

[10] Ibid.

Holistik adalah gabungan dari kegiatan untuk mengatasi semua aspek perkembangan anak dalam pembelajaran. Sedangkan lntegrated adalah suatu pendekatan di mana konten tumpang tindih (Overlapping) dan terjalin di seluruh pusat kegiatan belajar (seperti sentra) atau melalui subyek keluar (kepemilikan modal studi).

Untuk anak mendapatkan pembelajaran yang holistik dan terintergrated salah satunya dengan pembelajaran dalam bentuk tema (theme). Tema menjadi bingkai setiap kegiatan yang dilaksanakan pada pendidikan anak usia dini. Tema membuat pembelajaran yang dijalani anak menjadi lebih fokus dan mendalam.

Pada aspek pembelajaran anak usia dini,  tema dan fakta pembelajaran tertentu dapat didukung secara principle oleh sumber pengetahuan yang berasal dari sumber-sumber yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya seperti kamus dan ensiklopedia, atau kitab suci al-Quran dan Hadist, hal ini dimaksudkan agar pengembangan kurikulum holistik terpadu itu dapat bersumber selain dari buku-buku ilmiah juga sesuai dengan kitab suci agama, yang dijadikan pegangan hidup bagi Umat yang beragama Islam.

Karakter tema menurut para ahli, di antaranya adalah Dewey yang menyatakan bahwa kurikulum berhubungan dengan hidup yang sesungguhnya. Oleh karena itu, Tema dipilih berdasarkan materi kehidupan yang mengalir melalui kurikulum yang disusun. Menurut Hendrick (1986) Teaching melalui theme menolong anak untuk membangun “an overall sense of direction and consolidation” dalam pembelajarannya. Dan menurut Osborn (1983) Melalui program yang berdasarkan tema, anak dapat membangun hubungan antara potongan-potongan (fragment) informasi menjadi bentuk konsep yang abstrak dan lebih komplek.

Untuk mendapatkan tema yang tepat bagi pembelajaran anak, maka pemilihan tema didasarkan pada kebutuhan anak secara individual yang kemudian di tentukan juga dalam bentuk tema kelompok. Dari tema yang didapat secara individual anak selanjutnya digabungkan menjadi satu sehingga akan didapat tema yang lebih dominan dalam kelompok, dan tema yang dominan tersebut dapat dijadikan tema pertama yang akan dibahas secara bersama dalam jangka waktu tertentu, yang ditentukan dari seberapa dalam pengetahuan terhadap tema tersebut akan dialirkan kepada anak.

Dalam kegiatan yang dilaksanakan,  membutuhkan penggunaan kemampuan mental sebagai berikut;

  • Attending (perhatian)
  • Listening (mendengar)
  • Observing (mengamati)
  • Recalling (menceritakan kembali)

(Hendrick, 1986)

Dengan penggunaan kemampuan mental di atas maka dapat merangsang munculnya kreativitas dan dorongan kepada anak untuk berekplorasi dan berekperimen, karena sesungguhnya setiap yang terjadi tidak dapat muncul begitu saja. Seperti  Elkind (1988) yang menyatakan bahwa, pemunculan yang sederhana sekalipun dari kegiatan pembelajaran tidak akan muncul dengan sendirinya/begitu saja. Hanya bisa muncul jika anak involved, mendiskusikan dan merefleksikan pengalaman belajar mereka.

SELAMAT DATANG

Bismillah

Terima Kasih Atas Kunjungan Anda ^_^

Blog ini merupakan wahana bagi saya untuk dapat berbagi dan menampilkan beberapa artikel ilmiah yang berkaitan dengan Pendidikan Anak Usia Dini dan aktivitas di PAUD Ar-Rahimah Kota Jambi yang menggunakan Pendekatan Pembelajaran Berbasis Sentra dan Lingkaran. Semoga dengan blog ini dapat menambah pengayaan terhadap pengetahuan kita tentang pentingnya pendidikan anak usia dini yang tepat, dengan memberikan dunia anak untuk mereka dapat belajar dengan cara yang menyenangkan yaitu  dunia bermain.

Bagi anak usia dini bermain adalah belajar dan belajar adalah bermain (drg. Wismiarti, Sentra; Pustaka Alfalah, 2010)

Sajian ini dapat diakses secara langsung. Bagi para pengunjung, dengan segala hormat saya mohon untuk memberikan komentar, agar saya dapat terus berkarya dan memperbaiki segala kekurangannya melalui masukan, kritik dan saran. Terimakasih. Salam

Zukhairina

Awalnya

Syukur alhamdulillah semua tugas telah terselesaikan…Semoga akan menjadi ilmu yang bermanfaat, dan tetap berharap di kemudian hari akan mendapatkan ilmu-ilmu yang lainnya
Terima kasih banyak untuk fasilitator dan administrator dari sistem PJJ – P4TK Pertanian Cianjur 2010, Allah pasti akan membalas semua kebaikan yang telah diberikan kepada kami
^_^ Amin

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.841 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: